Saturday, 31 August 2013

Nurul Izzah, Sang Putri Reformasi


Siapakah Putri Reformasi?  Ia berasal dari Malaysia. Yup, benar! Dia adalah Kak Nurul Izzah Anwar, putri sulung dari bekas Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Aktivitas ayahnya yang menjadi tokoh oposisi membuat ia kenal dunia politik sejak kecil. Lingkungan itulah yang mengantarnya mendapat julukan Putri Reformasi. Kak Nurul juga menjadi anggota parlemen termuda kedua di Malaysia. Ia terpilih menjadi anggota parlemen dua periode,  tahun 2008 dan 2013 ini. Yuk, kenalan dengan Putri Reformasi Malaysia, yang berbincang dengan Reporter Teen Voice Kak Johan Prasetyo beberapa waktu lalu.

Bagaimana sih awalnya Kak sampai dijuluki sebagai Putri Reformasi?
Ya beginilah sebenarnya sejak tahun 1998, bila hmm.. ada masalah politik dan juga ekonomi,  krisis di Malaysia, kawasan Asia Tenggara. Tentunya gerakan itu hidup dengan sendirinya, jadi bila (saat) ayah saya dipenjarakan 6 tahun, saya selaku anak sulung, gara-gara mungkin dilihat sebagai suatu simbol diberikan nama Putri Reformasi. Tapi kadang-kadang agak lucu buat saya, karena ya kita dalam satu perjuangan ini tidak mudah kan. Jadi kalau diberikan gelar itu pada saya, tanggung jawabnya lebih tinggi.

Apa tanggapan Kakak dijuluki sebagai putri reformasi?
Semasa ayah saya dipenjara itu banyak ya pimpinan oposisi yang membantu mengajar saya. Jadi saya seringkali menyatakan,saya ini macam anak reformasi, bukan lagi anak Pak Anwar Ibrahim. Jadi jika kita berbicara tentang gelar ini, banyak yang mendukung. Bukan saya seorang. Saya hanya seorang dari ratusan, ribuan yang bersama yang ditangkap, yang hilang pekerjaan, semata-mata karena mendukung Datuk seri Anwar Ibrahim. Jadi saya enggak ambil begitu serius pada saya, itu yang terbaik,  jangan kita ingat, “we are the chosen one.” Yang penting adalah tugas dan keterlibatan kita untuk membantu orang banyak.

Terus bagaimana sih cara melaksanakan amanah dari masyarakat sebagai Putri Reformasi?
Ya ketika itu memang saya hanya lebih banyak berkampanye untuk partai oposisi, saya sendiri tidak bertanding dalam pemilu, saya mulai bertanding (ikut pemilu-red) tahun 2008. Ya perlahan-lahan, ya bertahap, karena tidak mudah untuk memegang tanggung jawab bilamana saya sendiri diminta untuk bertanding, saya kata ini harus jadi keputusan saya, jadi tidak boleh karena orang lain minta. Karena itulah saya pikir, bagaimanakah caranya saya membalas budi orang banyak yang berjuang untuk ayah, yang tidak mengenali ayah. Saya pikir, dengan membuktikan keberanian saya, bukan saja setelah ayah itu bebas saya lupa pada mereka. Setelah ayah itu bebas dari penjara saya mau untuk menunaikan amanah untuk rakyat.

Pada saat itu, suka dukanya jadi Putri Reformasi itu apa?
Bukan sesuatu yang mudah, karena enam tahun semasa ayah dipenjara, adik-adik saya masih kecil dan tentunya kitapun seolah enggak ada harapan untuk mendapat keadilan. Pada saya zaman-zamannya susah itu seringkali saya ingat sekarang, bila kita menang, sudah periode kedua saya ingatkan, ya bukan selalunya indah, bukan selalunya mudah. Jadi karena itu cobaan-cobaan kita hadapi, ya nggak apalah. Saya senantiasa berpikir optimis, positif, dan saya bersyukur setelah 15 tahun kita masih bertahan. Banyak juga yang sukanya walaupun dalam kedukaan, eggak boleh kita terlalu pasrah ataupun kecewa, harus senantiasa senyum dan bersyukur.

Editor: Vivi Zabkie
Sumber: http://www.portalkbr.com/teenvoice/bincang-kita/2907044_6437.html
Foto: Nurul Izzah saat wawancara dengan KBR68H. (Foto: Arin Swandari/KBR68H)